free download the best American humorous short stories

Selasa, 28 Juli 2009

Introduction
This volume does not aim to contain all "the best American humorous short stories"; there are many other stories equally as good, I suppose, in much the same vein, scattered through the range of American literature. I have tried to keep a certain unity of aim and impression in selecting these stories. In the first place I determined that the pieces of brief fiction which I included must first of all be not merely good stories, but good short stories. I put myself in the position of one who was about to select the best short stories in the whole range of American literature,[1] but who, just before he started to do this, was notified that he must refrain from selecting any of the best American short stories that did not contain the element of humor to a marked degree. But I have kept in mind the wide boundaries of the term humor, and also the fact that the humorous standard should be kept second--although a close second--to the short story standard.
No book is duller than a book of jokes, for what is refreshing in small doses becomes nauseating when perused in large assignments. Humor in literature is at its best not when served merely by itself but when presented along with other ingredients of literary force in order to give a wide representation of life. Therefore "professional literary humorists," as they may be called, have not been much considered in making up this collection. In the history of American humor there are three names which stand out more prominently than all others before Mark Twain, who, however, also belongs to a wider classification: "Josh Billings" (Henry Wheeler Shaw, 1815-1885), "Petroleum V. Nasby" (David Ross Locke, 1833-1888), and "Artemus Ward" (Charles Farrar Browne, 1834-1867). In the history of American humor these names rank high; in the field of American literature and the American short story they do not rank so high. I have found nothing of theirs that was first-class both as humor and as short story. Perhaps just below these three should be mentioned George Horatio Derby (1823-1861), author of Phoenixiana (1855) and the Squibob Papers (1859), who wrote under the name "John Phoenix." As has been justly said, "Derby, Shaw, Locke and Browne carried to an extreme numerous tricks already invented by earlier American humorists, particularly the tricks of gigantic exaggeration and calm-faced mendacity, but they are plainly in the main channel of American humor, which had its origin in the first comments of settlers upon the conditions of the frontier, long drew its principal inspiration from the differences between that frontier and the more
settled and compact regions of the country, and reached its highest development in Mark Twain, in his youth a child of the American frontier, admirer and imitator of Derby and Browne, and eventually a man of the world and one of its greatest humorists."[2] Nor have such later writers who were essentially humorists as "Bill Nye" (Edgar Wilson Nye, 1850-1896) been considered, because their work does not attain the literary standard and the short story standard as creditably as it does the humorous one. When we come to the close of the nineteenth century the work of such men as "Mr. Dooley" (Finley Peter Dunne, 1867- ) and George Ade (1866- ) stands out. But while these two writers successfully conform to the exacting critical requirements of good humor and--especially the former--of good literature, neither--though Ade more so--attains to the greatest excellence of the short story. Mr. Dooley of the Archey Road is essentially a wholesome and wide-poised humorous philosopher, and the author of Fables in Slang is chiefly a satirist, whether in fable, play or what not.

to read more please free download here

Read More..

Bianglala Orang Bugis-Makassar (Kuasa dan Usaha di Gatra)

Rabu, 08 Juli 2009

Sembilan pakar mengulas berbagai aspek social-budaya sejumlah etnis di Sulawesi-Selatan. Walau berupa makalah, isinya cukup memadai sebagai upaya pengenalan.
Ada citra yang melekat pada orang Bugis dan Makassar. Mereka dikenal sebagai pelaut yang tangguh, perantau yang gigih, dan pemeluk agama islam yang taat. Selain ini juga penganut demokrasi yang patuh pada kekuasaan yang dibentuk berdasarkan bentuk social.
Citra seperti itu muncul tentu saja berdasarkan kajian-kajian yang telah dilakukan, dimulai sejak zaman penjajahan. Keunikan etnis Bugis dan Makassar tak habis-habisnya digali. Dalam buku ini dua etnis itu disoroti dalam struktur budaya, struktur kekuasaan, dan peranan mereka dalam dunia usaha.
Ada Sembilan pakar yang menyumbangkan pemikirannya tentang potret social-budaya, politik, dan ekonomi kedua suku itu. Salah satunya Christian Pelras, yamg selama puluh tahun meneliti suku bugis.Karyanya dalam buku ini boleh dibilang sebagai ringkasan dari bukunya yang berjudul Manusia Bugis, terbitan 2006.Cuma,dalam tulisannya ini,Pelras lebih memfokuskan bahasannya pada masalah hubungan sosial-politik dan ekonomi masyarakat Bugis.
Ia menggali hubungan dan ikatan patron-klien yang mewarnai kehidupan masyarakat Bugis.Dia melihat keunikan-keunikan dalam menjalin hubungan ini.Salah satunya adalah sifat sukarela yang mendasari ikatan hubungan “tuan” dan “pengikutnya” dalam masyarakat yang dikenal berkarakter keras tapi peramah ini.
Dalam hal politik,ikatan yang bersifat sukarela ini sangat memungkinkan rakyat meninggalkan rajanya bila sang raja dinilai berlaku sewenang-wenang.Sebab,dalam ikatan tuan-pengikut dalam masyarakat Bugis berlaku semacam kontrak sosial yang mengatur timbal balik hak dan kewajiban masing-masing.Raja sebagai penguasa wajib melindungi dan menyejahterakan rakyatnya,rakyat pun wajib mengabdi kepada raja.
Pelras melihat pola ikatan patron-klien ini masih hidup dalam bentuknya yang berbeda,sungguhpun sudah terjadi transisi radikal pada masyarakat Bugis sekarang.Pakar lainnya,Koos Noorduyn,memusatkan perhatiannya pada masyarakat Wajo.Kelompok ini boleh dibilang mewarisi darah dagang lewat profesi mereka sebagai saudagar yang berdiam di Makassar.
Menurut Noorduyn,orang-orang Wajo bermukim di Makassar jauh sebelum perang melawan Belanda,pada pertengahan abad ke-17.Mereka pengikut setia raja-raja Makassar.Tapi,berbeda dari paparan Pelras,Noorduyn lebih memfokuskan pembahasannya pada struktur kekuasaan masyarakat Wajo di Masa lalu dan model-model kegiatan perekonomian yang mereka jalankan.
Noorduyn mencatat,dibandingkan dengan dengan orang Bugis,pelapisan sosial dalam masyarakat Wajo tidak kental betul.Kebangsawanan bukan menjadi tolok ukur baku bagi pengangkatan seorang pemimpin,karena prinsip dasar yang mereka anut adalah consensus.Ini boleh dibilang sebagai prinsip yang mengarah pada konsep bersifat demokratis pada masyarakat Wajo.
Penulis-penulis lainnya ada yang lebih memfokuskan pada studi kultural orang Gowa di Sulawesi Selatan.Martin Rossler,misalnya,menyoroti hubungan simbol kepemimpinan,benda pusaka,dan fungsi ritual dalam kaitannya dengan model kepemimpinan masyarakat,terutama di dataran tinggi Gowa.Dia membedah peranan kalompoang yang bermakna “ kebesaran” dalam perubahan aspek kepemimpinan masyarakat Gowa.
Yang tak kalah menarik ,ada juga pakar yang khusus mengkaji kiprah orang-orang Bugis dan Makassar di perantauan.R.Z. Leirissa,misalnya, membandingkan peran mereka di dua kawasan, yakni Ambon dan Ternate. Ia menemukan kemiripan, bahwa peran orang Bugis dan Makassar sangat besar dalam perdagangan dengan pihak luar. Ia juga menemukan adanya pertalian mereka dengan struktur kekuasaan tanah perantauan. Beragam topic yang tersaji dalam buku ini sangat menarik, terutama untuk mengenal lebih jauh etnis-etnis yang di Sulawesi Selatan. Tentu saja tidak tertutup kemungkinan untuk kajian yang lebih komprehensifi. Terutama, untuk melengkapi kajian tentang etnis lain di Sulawesi Selatan, seperti Mandar, Toraja dan Kajang.

Erwin Y Salim
(sumber: Gatra No. 34/2-8 Juli 2009)

Read More..

Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat

Rabu, 29 April 2009

TJARA jang paling mudah untuk melukiskan tentang diri Sukarno ialah dengan menamakannja seorang jang maha-pentjinta. Ia mentjintai negerinja, ia mentjintai rakjatnja, ia mentjintai wanita, ia mentjintai seni dan melebihi daripada segala-galanya ia tjinta kepada dirinya sendiri.
Sukarno adalah seorang manusia perasaan. Seorang pengagum. Ia menarik napas pandjang apabila menjaksikan pemandangan jang indah. Djiwanja bergetar memandangi matahari terbenam di Indonesia. Ia menangis dikala menjanjikan lagu spirituil orang negro.
Orang mengatakan bahwa Presiden Republik Indonesia terlalu banjak memiliki darah seorang seniman.


Download Gratis di Sini


"Akan tetapi aku bersjukur kepada Jang Maha Pentjipta, karena aku dilahirkan dengan perasaan halus dan darah seni. Kalau tidak demikian, bagaimana aku bisa mendjadi Pemimpin Besar Revolusi, sebagairnana 105 djuta rakjat menjebutku ? Kalau tidak demikian, bagairnana aku bisa memimpin bangsaku untuk merebut kembali
kemerdekaan dan hak-azasinja, setelah tiga setengah abad dibawan pendjadjahan Belanda? Kalau tidak demikian bagaimana aku bisa mengobarkan suatu revolusi ditahun 1945 dan mentjiptakan suatu Negara Indonesia jang bersatu, jang terdiri dari pulau Djawa, Bali, Sumatra, Kalimantan, Sulawesi, Kepulauan Maluku dan bagian lain dari Hindia Belanda ?

Read More..